Tuhan dan Hal-hal yang Belum Terselesaikan di Kineruku

Hegarmanah selalu terasa sejuk. Daerah ini kerap mengundang cemburu warga Kota Bandung yang harus merasakan gerahnya hidup diimpit bangunan. Di sini rasanya semuanya dinaungi oleh pepohonan dan awan gemawan. Dari luar, Kineruku tampak sudah mulai dipenuhi oleh pengunjung, pukul 12.30 waktu Bandung bagian menuju ke arah utara. Biasanya, di beranda pengunjung harus menyimpan segala bentuk tas di dalam loker. Kebetulan saya membawa ransel cukup besar dan agak malas untuk membuka loker. Meski lebih menyukai suasana perpustakaan di dalam, saya putuskan untuk duduk di Kopiruku saja, tepat di samping Kineruku. Tak perlu menitipkan tas, dan suasana cenderung lebih sepi.IMG_20200229_140004_838

Saya duduk tepat bersebelahan dengan sejoli muda. Jarak meja kami mungkin hanya 50 cm. Tak ada pilihan lain karena meja lain bentuknya lebih kecil dan satu meja besar untuk lebih dari empat orang pengunjung–saya membawa laptop cukup lebar, jadi meja kecil itu tak cukup untuk menampung laptop, kopi, dan pisang goreng.

Karena jarak yang begitu dekat, saya jadi bisa mendengar perbincangan mereka dengan sangat jelas. Mereka pun tampak tak gusar melihat kehadiran saya yang begitu dekat. Kemudian jari mulai bekerja: membuka email, menulis sejumlah dokumen, dan berselancar informasi. Setelah semua itu selesai, tak banyak yang dilakukan selain mendengar perbincangan mereka dengan dialek sunda yang saya gemari: aing-maneh.

“Aing teh belum yakin sama agama” kata si pria sambil melihat lawan bicaranya mengoprek cat air di atas mejanya.

“Kenapa?” tanya si perempuan.

Si pria menimpali. Katanya ia masih ragu dengan pilihannya. “Hidup kita teh kan cuma sekali, tapi aing takut nanti ketika aing mati, agama yang aing yakini teh salah. Makanya sampai sekarang ain teh masih nyari mana yang bener.”

Di sini, si pria agak lama terdiam. Si perempuan juga tak langsung menimpali. Mungkin mencoba menebak ke mana arah pembicaraan pacarnya ini. Tak lama, keheningan pun pecah. Mbak pramusaji cum kasir keluar ruangannya sambil menggerutu. Mesin EDC-nya tak dapat sinyal di dalam ruangan. Pembayaran non-tunai terasa merepotkan.

“Terus, kenapa maneh masih mau sama aing? Padahal aing teh begini” akhirnya si pria menemukan muara dari tesisnya perihal keyakinannya terhadap agama.

Lagu Fade Into You dari Mazzy Star sayup terdengar. Beberapa hari lalu, David Roback, personel Mazzy Star, meninggal di usia 61 tahun. Lagu-lagu dari band ini menjadi salah satu pengiring masa mahasiswa saya, terlebih saat cinta adalah topik utama yang menyita hidup, selain, hmm, tentu saja masa depan dan karier gemilang yang dibayangkan bak utopia.

I want to hold the hand inside you. I want to take a breath that’s true. I look to you and i see nothing. I look to you to see the truth. You live your life. You go in shadows. You’ll come apart and you’ll go blind. Some kind of light into your  darkness. Colors your eyes with what’s not there. Fade into you…

“Nggak apa-apa sih. Aing kan juga nggak nanya agama maneh apa pas maneh nembak aing. Tapi aing juga sebenernya takut, nanti kalau aing mati, taunya pasangan yang aing pilih teh salah. Makanya aing juga masih nyari.”

A, keduanya sama-sama masih mencari. Tak tahu pula lah mereka akan bermuara ke mana. Mendengar manifesto itu, si pria tak merespon, mungkin si perempuan juga tak menyangka bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu. Kemudian keduanya kembali dengan kuas dan cairnya masing-masing. Tapi tak lama kemudian mereka kembali berbincang dengan sangat lancar, saling terbuka. Perbincangan cinta yang sungguh platonik. Saya senang mendengarkan perbincangan itu dari ruang beraroma kafein tanpa dukungan wifi ini.

Di Kineruku, perbincangan perihal eksistensialisme seperti ini adalah salah satu bagian yang memberi ‘nyawa’ bagi tempat ini, seberapa pun kadar filsafat yang dibicarakan. Jika mungkin dahulu pemantik diskusi adalah dari buku-buku dan film yang dilahap oleh para pengunjungnya, mungkin kini pemantiknya adalah dari kisah petualangan hidup setiap pengunjung–karena saya sudah jarang melihat pengunjung yang melahap satu buku secara utuh saat mengunjungi Kineruku, mungkin cermatan saya salah.

Mungkin sejoli ini merasa saya memerhatikan mereka, atau terganggu oleh asap rokok yang terus mengepul dari meja saya. Tak lama mereka berpindah meja ke seberang. Dari belakang saya perhatikan mereka berbincang lebih serius. Atau bisa jadi saya yang terlalu serius. Saya tak tahu. Saya tak mendengarkan mereka hingga selesai. Gerimis turun dan saya lapar. Perhentian selanjutnya: Mie Linggarjati. Semoga sejoli itu berhasil menemukan apa yang mereka cari. Atau tak perlu jauh-jauh: keduanya adalah jawaban dari misteri yang coba mereka urai. Saya rasa mereka cocok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: