Film ‘Petualangan Sherina’ punya pengaruh kuat bagi tumbuh kembang generasi yang kini punya moniker sebagai milenials.Termasuk saya. Tapi jauh sebelum kisah Sadam dan Sherina ini, ada dua film tentang anak kecil yang sering diputar di televisi pada medio 90-an: Arie Hanggara (1985) dan Anak Ajaib (1982). Dua film itu punya kesan tersendiri bagi saya.

Arie Hanggara diangkat dari cerita nyata tentang bocah 8 tahun yang meninggal akibat penyiksaan oleh orang tuanya. Kondisi keluarganya berada di bawah tekanan ekonomi teramat sulit. Ayahnya menganggur, ibu tirinya tak bersimpati, tapi Arie sosok yang bandel. Kisah film ini memperpanjang stereotip ibu tiri sebagai sosok kejam dan anak bandel yang hanya jadi beban keluarga. Karena ini, saya jadi sungkan untuk bandel di hadapan keluarga meski tak beribu tiri. Takut saja jika hukumannya adalah kekerasan fisik.

Beda hal dengan Anak Ajaib. Hingga sekarang, jika mendengar nama film ini disebut, yang terlintas selalu adegan sunatan. Bang Bokir, dukun sunat berpengalaman, harus menerima kenyataan bahwa kemampuannya menyunat harus tercemar karena seorang bocah yang tak mempan disunat meski menggunakan berbagai alat potong. Adegan tersebut tentu saja tragis sekaligus komedi. Tapi bagi penonton kecil, film horor supranatural ini tentu saja cukup meneror hari-hari sesudahnya.

Bicara soal khitan, minggu lalu di kantor, ada perbincangan singkat tentang hal itu antar staf saat jam lengang. Rupanya beberapa staf lelaki di kantor melaksanakan ritual khitan di lokasi yang sama dengan saya di Pusat Khitan ByPass, Bandung, meskipun harus menempuh ratusan kilometer dari Bogor dan menahan perih sesudahnya.

Kemampuan ahli khitan (saya nggak tahu istilah medisnya) di sini tak tertandingi. Anak-anak yang tegang sambil berbaring seperti dihipnotis. Tahu-tahu sang pelindung telah terpotong dan dijahit dengan singkat. Rasa kebal berubah jadi perih saat biusnya hilang. Tersiksa. Rasanya seperti kekebalan Anak Ajaib yang luntur berubah menjadi siksaan Arie Hanggara. Tapi luka pasti mengering, meski berbekas.

Saat ditanya bagaimana bentuknya, saya bilang: saya pake model belah dua, bisa buka-tutup pakai resleting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: