Pendengar yang Baik

Menjadi orang yang tak terlalu pandai berdoa dalam bahasa semitik merupakan kekurangan seorang penganut kepercayaan tertentu, juga bisa jadi sebuah keuntungan. Di Pura Besakih, dua bulan lalu, saya menghadap Gunung Agung. Duduk bersila, memejamkan mata, dan dipersilakan berdoa. Di antara jemaat peribadatan di tempat suci bagi umat Hindu di Bali ini, hanya saya dan kawan saya Tea yang berpakaian turis–pemandu setempat sangat persuasif menawarkan kami kesempatan untuk berdoa.

Silakan memanjatkan doa yang biasa Anda gunakan, dalam hati saja, katanya. Saya tertegun, doa apa yang perlu disampaikan dan apakah memang perlu melakukan ini. Sebab aktivitas seperti ini bagi saya sangat bersifat personal. Tapi, baiklah, saya pasti mampu melakukannya, sebab suasana di lokasi sudah sangat zen: kelontang lonceng, semilir angin, bisik rapal mantra dalam bahasa Bali yang terdengar dari para pandit, dan aroma dupa, meski mendung menggelantung.

Selama aktivitas itu, gugup menguasai. Menutup mata membuat pusing kepala, bukan malah meningkatkan konsentrasi. Garis-garis beraneka warna melintas dalam kegelapan penglihatan yang tertutup. Pengalaman psikedelik yang kerap terjadi jika kepala pusing karena kekurangan cairan tubuh. Mungkin karena tak terbiasa menghirup aroma dupa, pikir saya. Atau pusing karena berjam-jam duduk mengendalikan sepeda motor dari Kuta ke Kintamani di utara, kemudian turun lagi ke selatan.

Otak terus mengolah data, mencari referensi, menyortir rangkuman pengalaman hidup dan rencana. Hingga di satu waktu, mesin pikiran ini menemukan folder yang perlu diisi oleh file yang lebih bermanfaat dan dipindai ulang untuk mengusir virus yang tak seharusnya tak berada di sana, dikarantinakan saja. Kemudian kalimat itu muncul, dan hanya itu saja yang terpikir di durasi waktu berdoa yang sesaat diperbolehkan oleh sang pemandu.

Kalimatnya terus diulang hingga saya putuskan untuk membuka mata. Tring, kondisi di pura tak berubah. Langit pun tak bertambah terang. Aroma dupa rasanya akan terasa abadi di tempat ini. Kemudian salah satu pecalang menyipratkan air suci ke atas tangan kami yang tertelungkup dan menitahkan agar meminumnya tiga kali. Kami mengambil beberaoa bulir beras dan menempelkannya di kening. Rasanya sangat kikuk. Bukan perasaan religius yang muncul, tapi mungkin inilah yang dimaksud gegar budaya; rasa bingung berada di lingkungan baru tanpa persiapan yang cukup, bahkan sama sekali tak siap.

Pemandu mengarahkan untuk membawa besek sesajen yang telah kami bawa sebelumnya, diletakkan di tempat yang sama dengan para jemaat yang lain. Tapi rasanya sedikit beban tak enak hati agak kendor. Dan di satu titik saya sadar, berdoa itu melegakan. Seperti beban yang dicurhatkan. Dan ternyata Sang Maha ini asyik juga, sebab ia pendengar yang sangat baik. Tak sekalipun kalimat saya dibantah. Ia hening di antara ada dan tiada.

Selamat tahun baru, semoga doa saya tak membuat Anda resah. Soal kabul atau tak kabul, biar nanti saya yang berusaha. Lain waktu saya pasti akan curhat lagi ya, mungkin sedikit menuntut 🙂

2 thoughts on “Pendengar yang Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: