The Sumba Journal: Puru Kambera

DSC_0077Setapak menuju tepian Pantai Puru Kambera, pohon kasuari tegak tenang (Foto: Muhammad Meisa)

Tikungan tajam dan tanah lapang di musim kemarau. Dua pesepeda motor datang dari utara dengan kecepatan tinggi. Dua detik kemudian satu orang tersungkur. Lengannya terlipat ke belakang, dahinya mengucurkan deras darah segar, mulutnya berbusa. Kerikil tajam menempel di lekuk lehernya. Tanah Puru Kambera yang gersang memerah. Hanya ada aku, Ika, Sam, dan pohon-pohon kering serupa sahara.

Kami segera membaringkannya namun tak tahu apa yang harus dilakukan kemudian. Sam bertindak cepat, ia pindahkan tubuh pemuda itu ke lokasi yang teduh, mengeluarkan darah yang tersendat di hidungnya, dan berusaha membangunkan kesadarannya. Aku segera mencari pertolongan. Ika menjauh dari darah yang masih deras mengucur. Kesadaran pemuda itu pulih, kawannya masih mencari pertolongan. Sebuah mobil datang meluncur, membawanya segera menuju entah kemana.

DSC_3304Insiden kecelakaan saat kami sedang fokus mengambil gambar lanskap Puru Kambera (Foto: Ika Tri Lestari)

Puru Kambera adalah gambaran kekeringan yang ganas. Jika melihatnya dari atas bukit, kau akan paham betapa air ialah salah satu benda paling berharga di bumi. Kering, tak ada kata lain yang mewakili daerah ini selain itu. Tapi, dari kekeringan inipun selalu lahir kehidupan. Kuda-kuda sandelwood yang tangguh mengunyah rumpuh kering. Debu-debu berterbangan diempas lari anak-anak di halaman rumahnya . Kambing mengembik di jalan beraspal. Burung sikatan ranting berteduh di bawah dedaunan. Ada kehidupan yang begitu sunyi di Puru Kambera, hingga kau tak tahu apakah mereka bahagia.

DSC_3549

Dari tanah ini tumbuh begitu banyak pohon-pohon kasuari, menghampar serupa pinus di sepanjang pantai. Aku tak menemukan desa di sepanjang bagian pantai ini, dan tampaknya tak ada industri perikanan lokal. Maka daerah ini setidaknya belum terlalu terjamah (kecuali oleh sampah dari seberang lautan). Sepinya pantai ini seolah-olah membuat waktu begitu lambat melaju. Aku bisa dengan tenang memerhatikan kuda-kuda yang lahap memakan rumput, begitu tenang, begitu banyak.

DSC_0138

Pemerintah setempat sepertinya belum mengelola kawasan ini menjadi daerah wisata. Beruntunglah kami jika suatu hari bisa menceritakan betapa sepi dan tenangnya pantai ini sehingga kau takkan pernah merasa menjadi turis tapi seolah menjadi pengelana yang tersesat dan enggan pulang.

Pengembangan kawasan ini memang mulai terlihat. Tanah-tanah di tepian pantai mulai terkavling oleh pagar dari batang-batang pohon. Kelak, nasibnya mungkin akan serupa dengan Londo Empat atau Londo Lima, pantai wisata berjarak sekitar 5 km dari Puru Kambera yang telah kehilangan suasananya yang asli sehingga kau tak bisa sekadar untuk berbicara dengan diri sendiri, bahkan ingin segera keluar dari tempat itu.

DSC_0088Ika, Sam, dan pemuda kebanggaan Kelurahan Sarijadi.

Bagiku, Puru Kambera adalah persinggahan singkat yang berkesan. Di tempat yang terasing seperti ini bahkan selalu ada kehidupan yang perlu dihargai, dijaga, dan tentu saja diperbaiki. Dan kita sama-sama rindu air. Ada tujuh matahari bertengger di tempat ini. Kita harus ke perbukitan hijau di Waingapu, mengakhiri dahaga.

DSC_0060

Kembali ke Waingapu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: