The Sumba Journal: Sebuah Kepulangan

Akhir November 2016…

2017-07-10 12.50.02 1Monumen perbatasan Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Tengah

 

Ihwal perjalanannya dimulai dari Anakalang, desa kecil di pusat Kota Waibakul, Sumba Tengah. Dua sepeda motor melintasi jalanan yang membentang dari bagian tengah hingga ke timur Pulau Sumba yang sepi. Tarikan gasnya membelah Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, mendaki perbukitan, menuruni lembah, menyeberangi sungai, menyisir pesawahan, dan beristirahat sejenak di bawah naungan rumah beratap alang-alang.

Bentang alam ini, kawanku, tak dapat dideskripsikan oleh kata-kata, karena ia tidak lahir dari mantra. Ia menjelma menjadi dunia dari bawah lautan, berdiri dan kemudian tercerabut. Bukit-bukit yang dulu menjadi rumah bagi akar-akar yang mencari air di perut bumi, kini hanya pekarangan bagi rumput-rumput liar dan seranggga-serangga tak terhormat.

Perbukitan ini, yang akan kau temui jika kau berhasil melewati lembah Lewa yang permai, adalah kepingan lego di tangan anak kecil yang menjelma menjadi taman bermain.  Kau bisa meloncat dari satu bukit ke bukit lainnya tanpa takut terluka. Kau bisa melukisnya dan menambahkan berbagai elemen hidup di setiap sudut. Kau bisa menambahkan matahari terbenam di antara dua bukit selagi burung-burung kembali ke sarangnya. Bisa juga kau tambahkan pohon kelapa yang miring dengan buah yang subur. Kalau kau mau, tambahkah juga pesawahan dengan sungai di tengahnya dan gubuk petani di tepian. Tapi berhati-hatilah, jika sudah berada di sini, kau enggan untuk pulang.

Mendekati Kota Waingapu, perbukitan seperti ini mejadi hiasan perjalanan.

Pemandangan ini hanya berisi perbukitan luas. Langitnya jelas biru; awan gemilang melintas tak henti dari pagi hingga sore. Oleh sebab itu, seperti kataku tadi, kau bisa tambahkan ornamen hidup lainnya sesukamu. Kalau kau mau–dan aku tak memaksa–kau bisa melukis diriku di atas sebuah motor bebek. Jika kau masih berkenan, tambahkan dua kawanku yang berboncengan sambil bersenda gurau sepanjang jalan.

Perbukitan tak bernama ini, kawan baikku, adalah universitas bagi Vero. Kau tentu belum mengenal Vero. Ia perempuan istimewa. Tubuhnya kecil, rambutnya lepek dan berkarat. Pipinya pucat karena terpaan angin kering yang membawa debu-debu dari savana. Saat kugendong naik ke punggungku, ia tak berbeda dari perempuan tetangga rumahku yang sering minta dibelikan sebatang cokelat atau teh manis dingin jika aku pulang ke Bandung. Berat tubuh vero tak seberapa, sedangkan tawa gelinya terlalu menggemaskan untuk segera kuturunkan. Vero sedang belajar hidup di bukit tandus, jauh dari air, tetapi tak sedikitpun menjauhi kebahagiaan. Senyumnya, kawanku, takkan pernah kau lihat di kota.

2017-07-10 12.50.05 1Vero dan kakaknya sebelum kugendong dan kurayu agar mau jadi pacarku.

Roda motorku tak berhenti. Ia melaju menuju Waingapu, oase besar kebudayaan paling modern di Pulau Sumba. Angin kerap mengembus dari celah perbukitan. Aspal jalanan mulus sepanjang tarikan gas. Benar-benar mulus. Pagi terlewati dengan beragam sensasi, mulai dari rumah-rumah adat di tepian jalan hingga berkilo-kilometer perbukitan tandus.

Hingga aku tiba di satu lanskap sepi. Sungguh sepi. Di kiri sepeda motorku adalah tubuh bukit-bukit karang berlapis tanah kering dan rumput liar. Di kananku adalah  jurang, dengan lembah perbukitan tandus yang seolah-olah menyembul dari perut bumi. Mataku tak pernah awas. Sebelumnya aku sempat dua kali melintasi jalanan menanjak dan menurun ini menggunakan mobil. Tapi, tak ada sensasi surgawi yang lebih indah selain menikmati pemandangan 180 derajat di hadapanku ini dari atas sepeda motor.

Kota Waingapu dari kejauhan.

Bersyukurlah, belum ada Indomaret atau AlfaMart di kota ini. Tak kulihat lagi umbu-umbu memakai kain adat sambil mengantongi parang dan mengunyah sirih-pinang di tepian jalan. Di Waikabubak, pemandangan pria dengan parang dan kain tenun kebanggaan sambil mengunyah sirih-pinang adalah hal yang akan kau temui di sudut-sudut jalan. Sedangkan di sini, di depan rumah sekalipun hanya ada pekarangan biasa tanpa batu kubur para leluhur.

Kota ini menjadi episentrum perjalanan di Tana Humba nan tandus. Di Sumba Tengah, aku tak melihat ada krisis air yang dihadapi warga yang manis senyumnya ini. Tutupan hutannya terbilang lebih luas, sumber air mencukupi untuk membuat bergelas-gelas kopi tubruk. Tapi, jika kau tiba di Sumba Timur, aih kau harus sekuat kuda-kuda sandelwood yang teliti mencari rumput di bukit gersang. Kau perlu selincah kakatua jambul-jingga di Wanggameti dan setenang julang sumba di Tanadaru.

Catatan ini adalah awal sebuah kepulangan dari laki-laki yang terpaut 2148 kilometer dari rumah keduanya. Dan perjalanan pun dimulai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: