Menjelang Pergantian Musim

IMG_20170504_153526_640Dia, yang sejak kelahirannya tak pernah menginjak tanah atau dibisiki adzan. Usai melahirkan, ibunya kehabisan kata-kata lalu diam sambil terus hamil dan kontraksi tak lama setelah dia lahir. Maklumi saja, program KB belum menginvasi angkasa. Paling mentok di puskesmas dan penyuluh yang gigih keluar masuk pelosok meninggalkan tiga anak mereka, atau empat anak, tujuh, sepuluh, dua belas, dua puluh empat, banyak.

Rumahnya beratap awan. AC dikirim langsung dari selatan, hembusan angin dari padang pasir Australia yang sejuk. Jika hujan turun, maka di saat itu dia baru bisa mandi. Sekali lagi, sejak kelahirannya dia tak pernah menginjak tanah atau dibisiki adzan. Dia lahir dan hidup di antara marabahaya. Jadi kau tak perlu protes jika tak ada toilet atau kamar mandi di rumahnya. Buang saja langsung dari atas biar kau lega.

Kemarin ada empat orang yang datang menjenguknya. Kukira tidak tepat sekadar menjenguknya. Keempatnya menjenguk sekeliling rumah. Melihat atap-atap tetangganya yang serupa. Ada sepasang cica-daun besar berterbangan. Keduanya telah dia anggap sebagai kawan, yang meski tak pernah berbicara langsung (dia tak mengerti bahasa burung), kepergiannya selalu meninggalkan rasa rindu.

Saat menjelang pergantian musim ia tampak tak secerah dulu. Maksudku, bukan semacam sifat dasar manusia yang kerap kendur semangat hidup. Lagipula aku tak tahu sifat dasar semangat hidup itu apa, Freud tak pernah menjelaskannya, bahkan mbokku saja tak paham. Mbokku hanya paham tentang sirih-pinang serta sedikit pengetahuan tentang ilmu nujum.

Sekali lagi, setiap menjelang pergantian musim dia selalu tampak tak secerah dulu. Mengikuti angin berhembus, katanya, lebih berbahaya jika dibandingkan mengikuti air mengalir. Sebab, katanya lagi, kau takkan pernah tahu kemana hembusan angin akan berujung. Seperti hari ini, ketika ia gugur dan lalu jatuh ke tanah setelah angin membawanya hingga ke padang tandus, melintasi Burma, Cina, Roma, Katalonia; hingga hinggap di cula badak; terbawa di celah rambut singa gurun; hingga akhirnya tercabik-cabik di antara pertarungan hyena dan pantera, di Afrika.

Dia tak pernah takut jatuh. 🍃

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: