Elusif

The Great Untold

Saya cukup banyak mendengarkan lagu-lagu beraksen melankolis. Berada di sudut kamar yang gelap didendangkan nada-nada murung. Sebagian besar berhasil menyerang saraf mata hingga tertidur lelap, namun tak jarang banyak lagu yang malah membuat gelisah. Kalau sudah muncul suasana seperti itu, waktu biologis tidur bisa berkurang dua hingga tiga jam. Berbagai hal dimunculkan: kekhawatiran hidup; orang-orang dekat yang berjarak; pekerjaan yang berlipat ganda; penyesalan di masa remaja; berbagai hal yang sebenarnya jarang sekali mengganggu hidup saya sehari-hari. Pikiran-pikiran tersebut kerap kali muncul begitu saja.

Pernah suatu masa saya terus mengulang lagu “Mistress (Piano Version)” dari Red House Painters. Lagu ini adalah salah satu pengiring masa peralihan usai putus cinta masa remaja. Lebih tepatnya masa remaja hingga menjelang dewasa–saya berpacaran cukup lama saat itu. Hanya ada instrumen piano di dalam lagu ini dan suara murung Mark Kozelek. Meski tak ada kisah yang terwakilkan oleh liriknya, suasana yang diciptakan saat mendengarkan Mistress adalah suasana yang teramat murung bagi saya. “Gloomy Sunday” memang jauh lebih murung, tapi tak ada unsur romantik di sana, malah cenderung distopia.

Continue reading

Advertisements

Pendengar yang Baik

Menjadi orang yang tak terlalu pandai berdoa dalam bahasa semitik merupakan kekurangan seorang penganut kepercayaan tertentu, juga bisa jadi sebuah keuntungan. Di Pura Besakih, dua bulan lalu, saya menghadap Gunung Agung. Duduk bersila, memejamkan mata, dan dipersilakan berdoa. Di antara jemaat peribadatan di tempat suci bagi umat Hindu di Bali ini, hanya saya dan kawan saya Tea yang berpakaian turis–pemandu setempat sangat persuasif menawarkan kami kesempatan untuk berdoa.

Silakan memanjatkan doa yang biasa Anda gunakan, dalam hati saja, katanya. Saya tertegun, doa apa yang perlu disampaikan dan apakah memang perlu melakukan ini. Sebab aktivitas seperti ini bagi saya sangat bersifat personal. Tapi, baiklah, saya pasti mampu melakukannya, sebab suasana di lokasi sudah sangat zen: kelontang lonceng, semilir angin, bisik rapal mantra dalam bahasa Bali yang terdengar dari para pandit, dan aroma dupa, meski mendung menggelantung.

Selama aktivitas itu, gugup menguasai. Menutup mata membuat pusing kepala, bukan malah meningkatkan konsentrasi. Garis-garis beraneka warna melintas dalam kegelapan penglihatan yang tertutup. Pengalaman psikedelik yang kerap terjadi jika kepala pusing karena kekurangan cairan tubuh. Mungkin karena tak terbiasa menghirup aroma dupa, pikir saya. Atau pusing karena berjam-jam duduk mengendalikan sepeda motor dari Kuta ke Kintamani di utara, kemudian turun lagi ke selatan.

Otak terus mengolah data, mencari referensi, menyortir rangkuman pengalaman hidup dan rencana. Hingga di satu waktu, mesin pikiran ini menemukan folder yang perlu diisi oleh file yang lebih bermanfaat dan dipindai ulang untuk mengusir virus yang tak seharusnya tak berada di sana, dikarantinakan saja. Kemudian kalimat itu muncul, dan hanya itu saja yang terpikir di durasi waktu berdoa yang sesaat diperbolehkan oleh sang pemandu.

Kalimatnya terus diulang hingga saya putuskan untuk membuka mata. Tring, kondisi di pura tak berubah. Langit pun tak bertambah terang. Aroma dupa rasanya akan terasa abadi di tempat ini. Kemudian salah satu pecalang menyipratkan air suci ke atas tangan kami yang tertelungkup dan menitahkan agar meminumnya tiga kali. Kami mengambil beberaoa bulir beras dan menempelkannya di kening. Rasanya sangat kikuk. Bukan perasaan religius yang muncul, tapi mungkin inilah yang dimaksud gegar budaya; rasa bingung berada di lingkungan baru tanpa persiapan yang cukup, bahkan sama sekali tak siap.

Pemandu mengarahkan untuk membawa besek sesajen yang telah kami bawa sebelumnya, diletakkan di tempat yang sama dengan para jemaat yang lain. Tapi rasanya sedikit beban tak enak hati agak kendor. Dan di satu titik saya sadar, berdoa itu melegakan. Seperti beban yang dicurhatkan. Dan ternyata Sang Maha ini asyik juga, sebab ia pendengar yang sangat baik. Tak sekalipun kalimat saya dibantah. Ia hening di antara ada dan tiada.

Selamat tahun baru, semoga doa saya tak membuat Anda resah. Soal kabul atau tak kabul, biar nanti saya yang berusaha. Lain waktu saya pasti akan curhat lagi ya, mungkin sedikit menuntut 🙂

Apa Kabar, Hidup? Semoga Baik-baik Saja

Apa kabar, Hidup? Semoga baik-baik saja. Kukirimkan secarik catatan dari sudut kamar gelap di pojokan Bogor yang pekat padat rapat di akhir pekan. Masihkah hidupmu membosankan? Tidur saat waktu masih terlalu dini berganti hari dan bangun di hari yang sama. Membuka mata kemudian mematikan bising alarm. Sengaja kau atur setiap lima belas menit sejak pukul tujuh pagi bunyi panggilan kerja itu menyala. Lalu kau teguk segelas air yang matang atas jasa saluran listrik. Lagu mengalun, terkadang bising, terkadang sendu, tanda emosimu saat pagi tak menentu. Lalu kau lama berdiam di kamar mandi. Menyalakan kembang air, duduk di closet, menunduk dan melanjutkan tidurmu yang tak nyenyak. Lalu kau bangun, menyeka gigi, mengacak-ngacak rambut, mengelap tubuh, dan mengeringkannya. Kau keluar dengan tubuh yang tak segar, mata berat, namun tetap berusaha agar bagian di antara lengan dan tubuhmu tak berbau.

Sekarang kau rajin menyisir rambut. Meski helai-helainya kini mudah sekali terjatuh, tanda akar-akarnya sudah tak kuat. Aku tak hendak menyebutmu tua. Kupastikan hampir seluruh helainya masih hitam pekat, tapi akarnya saja yang tak kuat. Lagipula, kau masih menggunakan shampoo anti-ketombe, bukan anti-rambut-terjatuh, berarti masalah utamamu selama ini masih ketombe yang tak lagi kau kau anggap sebagai masalah karena kau telah berdamai dengannya. Setelah kau lihat hamparan rambutmu sendiri, kau membuka pintu dan menguncinya. Kau selalu menyimpan kunci di kantung yang sama di bagian dalam tasmu. Kau turuni tangga, menuju tempat parkir, dan memeriksa apakah burung-burung merpati meninggalkan jejak di jok motormu. Lagipula kau tak peduli lagi apakah merpati-merpati itu tak peduli dimana ia akan melepaskan hasil olah pangannya karena sekali lagi kau telah berdamai dengan itu.

Kau melaju di jalan raya, hanya lima menit menuju kantormu. Sengaja kau buat menjadi lima belas menit perjalanan karena kau perlu membeli sebungkus nasi kuning berlauk tempe orek, bihun goreng, telur dadar, dan dua sendok sambal terasi. Setiba di kantor, kau mengeluarkan laptop, menghidupkannya, dan meninggalkannya kemudian turun menuju pelataran. Sebatang rokok dan obrolan pagi hari tentang kopi yang belum diseduh, tentang rekan kerjamu yang belum mengisi daftar hadir, tentang berita kemarin malam, tentang apa saja yang tak perlu menjadi rahasia. Lalu kau kembali menuju meja kerja, memeriksa surel yang masuk, membalas surel yang perlu dibalas, melihat daftar pekerjaan yang perlu dikerjakan, kemudian merasa nanti saja dikerjakannya karena kau merasa jika kau kerjakan saat itu juga pekerjaanmu yang lain tak kunjung selesai. Maka kau berdamai dengan setumpuk ambang batas waktu pekerjaan. Kau memeriksa akun sosial media, menyukai berbagai hal yang kawanmu bagikan, dan mematikan ponselmu.

Waktu istirahat tiba kau kembali turun ke pelataran. Membakar ujung kretekmu, menghisap asapnya, menyesap kopi tubruk yang kau sisakan sejak pagi, menyalakan ponsel, memeriksa akun sosial media, membuka akun lainnya, membuka akun lainnya, mematikannya, dan jam istirahat selesai. Kau kembali ke meja kerja dengan konsentrasi yang telah penuh dan siap bekerja. Kau bekerja bagai keledai, begitu lambat, karena kau telah berdamai dengan kerja keras bagai kuda. Menjelang sore, kau semakin rajin memeriksa jam tangan. Kau tak sabar ingin menyelesaikannya. Pukul lima sore tiba, rekan kerjamu pulang dan kau masih saja duduk di kursi yang sama. Kau sedang menunggu waktu makan malam tiba. Dan saat malam tiba, kau pulang dan melaju di jalanan. Kau berkeliling mencari menu makan malam dan kerap berakhir di tenda pecel lele. Kau selalu meminta kubis goreng, cukup sering meminta tambahan nasi setengah piring jika sambalnya terasa sedap. Kau pulang dengan perut yang terasa kenyang, membuka pintu, membersihkan lantai yang berhamburan helai-helai rambut, merapikan sprei kasur, mengganti pakaian, merebahkan diri, membuka akun sosial media, membuka akun lainnya, membuka akun lainnya. Kau tidur bukan karena mengantuk, tetapi karena kau memang merasa bosan terjaga. Keesokan hari, kau masih begitu saja. Nanti, sekali waktu, akan kutanyakan kembali apa kabarmu, Hidup.

The Sumba Journal: Puru Kambera

DSC_0077Setapak menuju tepian Pantai Puru Kambera, pohon kasuari tegak tenang (Foto: Muhammad Meisa)

Tikungan tajam dan tanah lapang di musim kemarau. Dua pesepeda motor datang dari utara dengan kecepatan tinggi. Dua detik kemudian satu orang tersungkur. Lengannya terlipat ke belakang, dahinya mengucurkan deras darah segar, mulutnya berbusa. Kerikil tajam menempel di lekuk lehernya. Tanah Puru Kambera yang gersang memerah. Hanya ada aku, Ika, Sam, dan pohon-pohon kering serupa sahara.

Kami segera membaringkannya namun tak tahu apa yang harus dilakukan kemudian. Sam bertindak cepat, ia pindahkan tubuh pemuda itu ke lokasi yang teduh, mengeluarkan darah yang tersendat di hidungnya, dan berusaha membangunkan kesadarannya. Aku segera mencari pertolongan. Ika menjauh dari darah yang masih deras mengucur. Kesadaran pemuda itu pulih, kawannya masih mencari pertolongan. Sebuah mobil datang meluncur, membawanya segera menuju entah kemana. Continue reading

The Sumba Journal: Sebuah Kepulangan

Akhir November 2016…

2017-07-10 12.50.02 1Monumen perbatasan Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Tengah

 

Ihwal perjalanannya dimulai dari Anakalang, desa kecil di pusat Kota Waibakul, Sumba Tengah. Dua sepeda motor melintasi jalanan yang membentang dari bagian tengah hingga ke timur Pulau Sumba yang sepi. Tarikan gasnya membelah Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, mendaki perbukitan, menuruni lembah, menyeberangi sungai, menyisir pesawahan, dan beristirahat sejenak di bawah naungan rumah beratap alang-alang.

Bentang alam ini, kawanku, tak dapat dideskripsikan oleh kata-kata, karena ia tidak lahir dari mantra. Ia menjelma menjadi dunia dari bawah lautan, berdiri dan kemudian tercerabut. Bukit-bukit yang dulu menjadi rumah bagi akar-akar yang mencari air di perut bumi, kini hanya pekarangan bagi rumput-rumput liar dan seranggga-serangga tak terhormat. Continue reading

Menjelang Pergantian Musim

IMG_20170504_153526_640Dia, yang sejak kelahirannya tak pernah menginjak tanah atau dibisiki adzan. Usai melahirkan, ibunya kehabisan kata-kata lalu diam sambil terus hamil dan kontraksi tak lama setelah dia lahir. Maklumi saja, program KB belum menginvasi angkasa. Paling mentok di puskesmas dan penyuluh yang gigih keluar masuk pelosok meninggalkan tiga anak mereka, atau empat anak, tujuh, sepuluh, dua belas, dua puluh empat, banyak. Continue reading

Sisa Lumpur Situ Gunung

Processed with VSCO with p5 presetKatakanlah besok hari terakhir di dunia. Setiap orang berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri, berpencar mencari ketinggian paling aman, jauh dari marabahaya lava gunung atau gemuruh bintang jatuh. Satu koloni manusia berkumpul di tengah hutan hujan tropis, tempat cyathea tinggi menjulang hidup tenteram hingga berusia ratusan tahun. Mereka membangun tenda, begitu rapat, hingga bisa kau dengar lenguh persetubuhan paling intim dari setiap pasangan di tempat ini. Continue reading

Marathon

Aku berlari melintasi pematang sawah. Dua petani melambai, bertanya hendak kemana? “Ke rumah kekasihku,” jawabku. Aku lanjut berlari. Melewati dua pertigaan jalan, berpapasan dengan guru mata pelajaran Agama yang pulang naik sepeda, ia bertanya hendak kemana? “Ke rumah kekasihku,” jawabku. Jangan lupa berdoa, katanya. Aku lanjut berlari, melalui jalan setapak, menuju puncak gunung. Seorang pendaki bertanya hendak kemana? “Ke rumah kekasihku,” jawabku sambil lalu. Saat kutoleh ia sudah hilang ditelan kabut. Continue reading

Aku Ingin Mencium Keningmu

Aku ingin menerbangi pesawat, tapi tak bisa, tombolnya terlalu banyak
Aku ingin ke Tibet, tapi tak bisa, ke Papua saja tak ada ongkos
Aku ingin makan Nasi Kuning, tapi tak bisa, penjualnya sudah tidur
Aku ingin pergi ke bulan, tapi tak bisa, kejauhan
Aku ingin ikut Ujian Nasional, tapi tak bisa, karena sudah pernah ikutan Continue reading

Tahun Kelana

dsc_0169

Saya kembali dari kecanduan rasa malas. Berbulan tak menulis dalam layar daur ulang ingatan ini sungguh membuat pegal hati–menulis paragraf pertama ini saja rasanya sungguh membutuhkan dorongan yang besar. Baik, tahun lalu adalah masa kejutan dan adaptasi. Berada di rumah baru tempat mencari sesuap nasi dan tiket perjalanan ke Indonesia Timur rupanya bukan perkara mudah.

Anggap saja 2016 adalah masa peralihan. Mengalihkan segala pikiran dan aktivitas dari yang lampau. Usaha itu rupanya tidak mudah, sebab terlalu sering menyebabkan rasa malas. Jika dipikir kembali, kemalasan adalah kenikmatan yang datang terlalu cepat. Saya senang bermalas-malasan; menghabiskan waktu dengan hanya membeku dan mendengarkan lagu sekeras mungkin selama berjam-jam, atau menatap tumpukan buku, mengagumi kovernya, tanpa membaca selembar isi tulisannya. Rasa malas adalah kawan yang senang berbisik, “jangan bergerak, diam saja”. Continue reading

Create a free website or blog at WordPress.com.